Kerja Sama Strategis Jepang-Indonesia, Isu Maritim, Keamanan, dan Ekonomi di Asia Timur, dan Masa Depan Hubungan Jepang-Indoensia

26/2/2019 Saat ini Jepang merupakan negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia dan salah satu eksportir terbesar dengan berbagai macam produk seperti mobil dan elektronik. Sementara itu, Indonesia sebagai negara keempat terpadat di dunia, diprediksi akan menjadi salah satu ekonomi terbesar di masa yang akan datang. Sebagai tambahan, sebagian wilayah Indonesia terletak di jalur pelayaran strategis yang dilewati impor dan ekspor Jepang. Karenanya, kerja sama antara Indonesia dan Jepang di berbagai bidang akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dengan adanya tujuan tersebut, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menyelenggarakan diskusi umum dengan pembicara-pembicara sebagai berikut: Salah satu hal yang disorot dalam diskusi ini adalah perang bea cukai yang melambung antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Fauziah Zen mengamati bahwa Jepang sendiri masih harus menyelesaikan masalah perdagangan dengan Amerika Serikat, dan banyak investor yang menerapkan prinsip “tunggu dan lihat” tanpa strategi jangka panjang. Di saat yang bersamaan, Beliau juga memperhatikan produk-produk Jepang mulai dikesampingkan oleh produk dari RRT dan Korea.

Brownbag Discussion Special Edition IPP Unika Atma Jaya: Evaluasi Kinerja Sektor ESDM Indonesia

Jakarta, 12 April 2019 – Atma Jaya Institute of Public Policy (IPP) mengadakan diskusi yang mengundang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Ignasius Jonan, dengan topik “Evaluasi Kinerja Sektor ESDM Indonesia”. Adapun moderator untuk diskusi ini adalah Agustinus Prasetyantoko, pengajar Unika Atma Jaya. Dalam lima tahun terakhir, pemerintah telah menggenjot pembangunan infrastruktur di bidang energi dan sumber daya alam. “Prinsipnya adalah membangun dengan semangat keadilan sosial, yang berarti memusatkan banyak pembangunan di daerah yang tertinggal. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi di Makassar, Papua, itu tinggi sekali, sampai 7-8%,” papar Jonan. “Selain pelestarian lingkungan, yang penting juga adalah affordability… energi yang ada juga terjangkau harganya oleh masyarakat. kalau konsepnya keadilan sosial, harga layanan umum harus bisa terjangkau oleh saudara-saudara dengan penghasilan paling rendah,” tambah Jonan. Pemerintah merealisasikan hal ini dengan berbagai program, seperti pemasangan panel surya independen di desa-desa yang belum teraliri listrik, pembangunan SPBU dengan satu harga untuk menggenjot harga bensin yang terlampau tinggi di beberapa daerah, pembangunan jaringan gas untuk menekan biaya impor elpiji yang terlalu besar, pembagian 25.000 converter kit untuk nelayan supaya biaya bahan bakar lebih murah, dan penggalian sumur untuk memasok air tanah bagi daerah-daerah kering. Jonan menegaskan bahwa fokus pemerintah selama ini adalah “Bagaimana menciptakan listrik yang lebih bersih dan harganya lebih terjangkau.” Dalam hal ini, pengajar Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko memuji pencapaian Kementerian ESDM. “Keadilan dan kesejahteraan sudah dihayati oleh pemerintah sekarang,” ujarnya. Acara dapat diakses di: https://www.youtube.com/watch?v=qazfZl70rl4