Jakarta — Atma Jaya Institute of Public Policy (IPP) bersama Frans Seda Foundation menyelenggarakan Frans Seda Memorial Lecture 2026 edisi khusus 100 tahun Frans Seda, Kamis (1/10). Mengangkat tema “Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural”, kegiatan ini membahas relevansi pemikiran dan kebijakan Frans Seda dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi, baik yang bersumber dari krisis domestik maupun perubahan lingkungan global.

Kegiatan berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Memorial Lecture ini menghadirkan Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu sebagai keynote speakers. Turut berhadir juga Dinna Prapto Raharja, Executive Director dan Co-Founder Synergy Policies, serta A. Prasetyantoko, Ekonom dan Dosen Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Unika Atma Jaya sebagai pembicara. Diskusi dimoderatori oleh Glory Rosari Oyong, Direktur Corporate Communication, Kompas Gramedia.

Dalam paparannya, Suahasil Nazara mengangkat pengalaman Indonesia menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi pada masa Frans Seda hingga krisis finansial dan pandemi. Ia menyoroti bagaimana kebijakan fiskal perlu mampu merespons kondisi luar biasa, namun tetap menjaga kredibilitas dan keberlanjutan fiskal. Suahasil mengaitkan pengalaman tersebut dengan warisan kebijakan Frans Seda. Menurutnya, setiap krisis memiliki karakter yang berbeda sehingga membutuhkan respons kebijakan yang sesuai. 

“Setiap krisis membutuhkan respons yang berbeda, Frans Seda memperlihatkan kepada kita bahwa keberanian bertindak harus selalu disertai tanggung jawab,” pungkas Suahasil

Sementara itu, Mari Elka Pangestu membahas kondisi fiskal Indonesia di tengah tekanan eksternal dan domestik. Ia mengulas kembali kondisi ekonomi yang dihadapi Frans Seda pada 1966, ketika Indonesia menghadapi hiperinflasi, tingginya beban utang, serta terbatasnya cadangan devisa. Paparan tersebut kemudian dikaitkan dengan tantangan Indonesia saat ini, termasuk ketegangan perdagangan, perubahan rantai pasok global, tekanan harga energi, keterbatasan ruang fiskal, serta kebutuhan memperkuat fondasi ekonomi domestik. 

“Tantangan kita memang berbeda dengan yang dihadapi Frans Seda, tetapi esensinya sama yaitu menciptakan ruang untuk menjawab guncangan sekaligus menyiapkan masa depan. Ruang fiskal tidak hanya berbicara angka, melainkan ruang bagi pemerintah untuk menentukan pilihan ketika menghadapi perubahan dan tekanan,” tutur Mari

Setelah sesi keynote speech, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama Mari Elka Pangestu, Dinna Prapto Raharja dan A. Prasetyantoko. Diskusi memperluas pembahasan dari perspektif kebijakan fiskal menuju persoalan geopolitik, perubahan lingkungan global, serta implikasinya terhadap pilihan kebijakan ekonomi Indonesia.

Dinna Prapto Raharja membahas sisi geopolitik dan diplomasi dalam kebijakan ekonomi di masa sulit. Ia membuka pembahasan dengan menempatkan ketidakpastian sebagai kondisi yang perlu dihadapi. Karena itu, pembuat kebijakan perlu mengenali arah perubahan dan memetakan perkembangan yang cepat dan berpontensi merusak. Pembahasan Dinna kemudian melihat sejumlah perubahan dalam lingkungan global, termasuk perkembangan jaringan komersial dan investasi Tiongkok, tekanan terhadap sistem energi, dan perubahan rantai pasok global yang tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari perkembangan geopolitik dan perubahan hubungan antarnegara. 

Prasetyantoko turut mengambil bagian dalam bahasan tentang tantangan kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Ia juga mengajak peserta melihat persoalan kebijakan ekonomi tidak hanya dari sisi respons terhadap tekanan jangka pendek, tetapi juga dalam kaitannya dengan tantangan yang lebih luas dalam pembangunan ekonomi. Perubahan lingkungan ekonomi menuntut adanya kemampuan untuk membaca situasi, menentukan prioritas, serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap memiliki arah yang jelas. Oleh karena itu, pemimpin juga harus berani mengambil risiko dan bertindak dalam pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi ekonomi negara.

Kegiatan ini menempatkan pengalaman Frans Seda sebagai titik awal untuk melihat tantangan kebijakan ekonomi dalam konteks yang berbeda. Jika pada 1966–1968 tantangan utama berkaitan dengan hiperinflasi, defisit, utang, dan pemulihan kredibilitas ekonomi, tantangan saat ini berkembang dalam lingkungan yang juga dipengaruhi oleh perubahan geopolitik, fragmentasi perdagangan, tekanan energi, serta perubahan struktural di dalam negeri.

Melalui rangkaian keynote speech dan diskusi interaktif tersebut, Memorial Lecture 2026 edisi khusus 100 tahun Frans Seda mengangkat kembali pertanyaan mengenai bagaimana kebijakan ekonomi dapat merespons tekanan tanpa mengabaikan kredibilitas, disiplin, dan kebutuhan untuk membangun ruang kebijakan bagi masa depan. Warisan Frans Seda adalah sebagai catatan sejarah sekaligus bahan refleksi untuk memahami bagaimana kebijakan ekonomi diambil ketika pilihan yang tersedia berada dalam kondisi terbatas.